Tidak terasa bulan suci telah berlalu, hari nan fitri pun juga baru saja dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Tiap-tiap belahan bumi, tiap-tiap negara, masing-masing daerah, provinsi, kota, desa, bahkan setiap rumah gegap gempita menyambut hari raya Idul Fitri yang juga dilaksanakan setiap tahunnya. kesan-kesan pun timbul dari berbagai individu muslim di setiap kontingen dan wilayah.
Hal yang paling menarik untuk dibahas adalah perbedaan pelaksanaan lebaran. pembahasan ini memang bukan lagi pembahasan baru karena hal ini juga pernah terjadi pada tahun-tahun yang lampau. meskipun demikian, kejadian seperti ini seharusnya tidak perlu lagi terjadi jika umat muslim menghendaki adanya kesatuan ummat. karena sedikit banyak, hal ini dapat menimbulkan perpecahan umat baik secara langsung maupun tidak langsung. bisa diambil contoh di lingkungan desa saya yang tersusun atas tiga golongan besar masyarakat muslim, dimana setiap golongan muslim mempunyai satu masjid besar. tentu cukup aneh saat satu masjid mengumandangkan takbir sementara dua masjid yang lain melaksanakan shalat tarawih, apalagi satu kompleks sudah menyalakan kembang api dan petasan, sementara di kompleks lain masih bersahut-sahutan untuk tadarus. yang paling parah adalah saat salah satu anak merasa iri dengan tetangganya karena sudah boleh makan pada esok harinya sementara dia masih berpuasa ikut orang tuanya. hal ini tentu sangat miris, mengingat kita umat islam memiliki satu Tuhan, satu Rasul, dan satu keyakinan. lantas mengapa harus ada perbedaan. Tapi no problem karena perbedaan lah yang membuat dunia ini lebih berwarna bukan.
Membahas perbedaan memang justru akan menimbulkan sesuatu yang negatif dan tak akan ada ujungnya apalagi ada pihak-pihak yang melakukan provokasi. Nah, oleh karena itu alangkah lebih baiknya kalau kita mencari akar timbulnya perbedaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, akar perbedaan ini ada pada proses penentuan 1 syawal yang juga disiarkan di beberapa stasiun televisi melalui sidang isbat. Hmm tentu umat muslim termasuk saya sendiri pun penasaran dengan bagaimana sih proses penentuan 1 Syawal tersebut, apa faktor yang membuat umat muslim berbeda dalam penentuan 1 Syawal? kiranya tulisan ini akan coba mengantarkan kita pada pemaparan jawaban dari pertanyaan tersebut yang dihimpun dari beberapa artikel terkait.
Pada dasarnya, untuk mengetahui mulai waktu berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) dan berhari raya (tanggal 1 syawal) maka dilaksanakan ketetapan sesuai hadist Nabi dalam riwayat Bukhari dan banyak hadits lain telah menegaskan sebagai berikut ;
Membahas perbedaan memang justru akan menimbulkan sesuatu yang negatif dan tak akan ada ujungnya apalagi ada pihak-pihak yang melakukan provokasi. Nah, oleh karena itu alangkah lebih baiknya kalau kita mencari akar timbulnya perbedaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, akar perbedaan ini ada pada proses penentuan 1 syawal yang juga disiarkan di beberapa stasiun televisi melalui sidang isbat. Hmm tentu umat muslim termasuk saya sendiri pun penasaran dengan bagaimana sih proses penentuan 1 Syawal tersebut, apa faktor yang membuat umat muslim berbeda dalam penentuan 1 Syawal? kiranya tulisan ini akan coba mengantarkan kita pada pemaparan jawaban dari pertanyaan tersebut yang dihimpun dari beberapa artikel terkait.
Pada dasarnya, untuk mengetahui mulai waktu berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) dan berhari raya (tanggal 1 syawal) maka dilaksanakan ketetapan sesuai hadist Nabi dalam riwayat Bukhari dan banyak hadits lain telah menegaskan sebagai berikut ;
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ
"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh hari" (HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah ra.)
Hilal atau bulan baru sedangkan kalangan ahli mengartikannya sebagai penampakan bulan pertama ketika bulan baru sesaat setelah matahari terbenam. Jadi dalam penanggalan (kalender) islam, perhitungan awal bulan adalah terlihatnya hilal. Kalender islam disebut juga kalender Hijriyah karena kalender ini dimulai ketika Nabi Muhammad saw. berpindah ke Madinah (Hijrah). Kalender ini kemudian dipakai secara resmi dalam penentuan waktu-waktu ibadah umat islam seperti pelaksanaan puasa Ramadhan, ibadah Haji, peringatan hari-hari besar umat Islam, dll.
Kembali ke hadist diatas!, sekilas hadist tersebut memberikan isyarat untuk mengobservasi/ mengamati atau melihat bulan setiap kali menentukan awal bulan baru, maka dari sini lah kemudian timbul berbagai macam metode pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah. Ada beberapa metode yang umum digunakan yaitu dengan Ru'yah dan Hisab.
Hilal atau bulan baru sedangkan kalangan ahli mengartikannya sebagai penampakan bulan pertama ketika bulan baru sesaat setelah matahari terbenam. Jadi dalam penanggalan (kalender) islam, perhitungan awal bulan adalah terlihatnya hilal. Kalender islam disebut juga kalender Hijriyah karena kalender ini dimulai ketika Nabi Muhammad saw. berpindah ke Madinah (Hijrah). Kalender ini kemudian dipakai secara resmi dalam penentuan waktu-waktu ibadah umat islam seperti pelaksanaan puasa Ramadhan, ibadah Haji, peringatan hari-hari besar umat Islam, dll.
Kembali ke hadist diatas!, sekilas hadist tersebut memberikan isyarat untuk mengobservasi/ mengamati atau melihat bulan setiap kali menentukan awal bulan baru, maka dari sini lah kemudian timbul berbagai macam metode pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah. Ada beberapa metode yang umum digunakan yaitu dengan Ru'yah dan Hisab.
| Metode Ru'yah |
1. Ru'yah
Ru'yah secara bahasa berarti melihat. Sedangkan secara termionolgis ru'yah berarti melihat hilal dengan mata pada saat matahari terbenam di barat pada tanggal 29 bulan Hijriyah. Saat ini metode ru'yah banyak terbantu dengan alat teropong sampai penggunaan theodolit. Untuk meminimalkan kesalahan hasil pengamatan maka dilakukan persiapan yang matang seperti pemilihan lokasi ru'yah yang strategis, pengamat-pengamat yang jujur dan menguasai cara-cara merukyat, prediksi arah dan tinggi bulan serta waktu pengamatan yang mendukung keberhasilan pengamatan dll.
Meskipun demikian masih akan dijumpai nantinya perbedaan untuk mengetahui awal bulan disebabkan oleh perbedaan faktor-faktor pendukung ru'yah mulai dari segi pemilihan lokasi baik geografis maupun strategisnya, pengaruh cuaca, penggunaan alat, pengamat rabun atau tidak, tidak ada pengganggu pandangan di arah hilal, keahlian dan kejujuran para pengamatnya serta banyak hal lainnya yang menyebabkan perbedaan hasil pengamatan hilal.
Ru'yah secara bahasa berarti melihat. Sedangkan secara termionolgis ru'yah berarti melihat hilal dengan mata pada saat matahari terbenam di barat pada tanggal 29 bulan Hijriyah. Saat ini metode ru'yah banyak terbantu dengan alat teropong sampai penggunaan theodolit. Untuk meminimalkan kesalahan hasil pengamatan maka dilakukan persiapan yang matang seperti pemilihan lokasi ru'yah yang strategis, pengamat-pengamat yang jujur dan menguasai cara-cara merukyat, prediksi arah dan tinggi bulan serta waktu pengamatan yang mendukung keberhasilan pengamatan dll.
Meskipun demikian masih akan dijumpai nantinya perbedaan untuk mengetahui awal bulan disebabkan oleh perbedaan faktor-faktor pendukung ru'yah mulai dari segi pemilihan lokasi baik geografis maupun strategisnya, pengaruh cuaca, penggunaan alat, pengamat rabun atau tidak, tidak ada pengganggu pandangan di arah hilal, keahlian dan kejujuran para pengamatnya serta banyak hal lainnya yang menyebabkan perbedaan hasil pengamatan hilal.
2. Hisab
Metode selanjutnya adalah hisab. Hisab dalam istilah penanggalan Hijriyah berarti metode penentuan penanggalan/awal bulan hijriyah dengan perhitungan astronomi. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini orang bisa melakukan hisab dengan akurasi tinggi. Seperti halnya ru'yah, hisab pun terdapat perbedaan dalam hasil pengamatan hilal. Sampai saat ini terdapat beberapa macam metode hisab dan dari hasil-hasil perbandingan berbagai macam metode perhitungan astronomi tersebut terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sudut elongasi, ketinggian bulan, sudut pencahayaan, umur bulan dari waktu ijtima'nya, dll.
FIQH, SCIENTIFIC DAN POLITIK
Ternyata pada satu metode pengamatan hilal baik pada ru'yah maupun hisab (bahkan dengan pendekatan science dan teknologi canggih pun) masih dijumpai perbedaan hasil pengamatan hilal. Lantas bagaimana penentuan awal bulan baru jika pelaksanaan pengamatan hilal yang berbeda? mengenai hal inilah diperlukan turut campur pemerintah (politik). Karena pada dasarnya Pemerintah lah yang berhak menetapkan awal bulan kalender hijriyah. Jadi dengan campur tangan pemerintah apakah kaum muslim sudah bisa merayakan Idul Fitrih bersama? ternyata BELUM. Yach.. Mungkin dalam satu negeri rakyatnya bisa merayakan bersama tapi bagaimana secara umat islam secara global?. Kenyataannya kita jumpai negeri-negeri muslim berbeda dalam merayakan Idul Fitri padahal negeri-negeri tersebut bertetangga (dan bukannya masih berada di bumi yang sama).
Menurut pendapat jumhur ulama, yakni dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah, tidak adanya anggapan mengenai perbedaan penentuan awal dan akhir puasa karena perbedaan mathla’ (tempat lahirnya bulan). Sayyid Sabiq menyatakan, “Menurut jumhur, tidak dianggap adanya perbedaan mathla’ (ikhtilâf al-mathâli’). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah saw, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh ummat. Jadi siapa saja di antara mereka yang melihat hilal; di tempat mana pun, maka ru’yah itu berlaku bagi mereka semuanya.”
Sayangnya masing-masing negeri muslim menetapkan sendiri-sendiri awal dan akhir Ramadhan berdasar hasil perhitungan atau rukyah yang didapat di wilayah negara itu. Bila di negeri itu tidak terlihat hilal, maka langsung digenapkan, tanpa menunggu terlebih dahulu hasil rukyat di negara muslim lain. Hasil keputusan tersebut lalu diumumkan di seluruh negeri masing-masing. Akibatnya, disinilah terjadinya perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan antara negeri-negeri muslim.
Pada hakekatnya, penentuan awal bulan kalender Hijriyah berkaitan erat dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan batas-batas negara yang bisa berubah-ubah. Pengamatan hilal seharusnya terintegrasi mulai dari Papua sampai Maroko. Apabila tidak terlihat hilal maka istikmal (penyempurnaan) digenapkannya bulan menjadi 30 hari. Disitulah kemudian sekali lagi membuat saya takjub dengan keagungan Islam. Ditunjukkan dengan terintegrasinya science, fiqh dan politik secara indah dalam islam. Meskipun science tidak perlu pembenaran Quran untuk membuktikannya tapi pembuktian ilmiah (walau didapat secara sistematis pun) harus tunduk kepada syariat. Dan dengan politik, sinergi itu dapat dijaga. Oleh karena itu, memang sudah saatnya kaum muslim di seluruh dunia mempunyai kesatuan politik. One God, One Rosul, One Ummah, One Eid!

0 Response to "'Ied in Harmony"
Posting Komentar